Parangtritis: Pesona Pantai Landai di antara Batu Karang dan Gumuk Pasir Sejarah

SEJARAH nama Parangtritis bisa dibilang cukup menarik. Konon, ada seorang pelarian dari Kerajaan Majapahit bernama Dipokusumo yang melakukan semedi di kawasan ini. Ketika sedang bersemedi, ia melihat air yang menetes (tumaritis) dari celah-celah batu karang (parang). Kemudian ia memberi nama daerah tersebut Parangtritis yang berarti air yang menetes dari batu.

Pantai Parangtritis diyakini merupakan perwujudan dari kesatuan trimurti yang terdiri dari Gunung Merapi, Keraton Jogja, dan Pantai Parangtritis itu sendiri. Masyarakat setempat meyakini Pantai Parangtritis merupakan bagian dari daerah kekuasaan Ratu Selatan atau yang dikenal dengan nama Nyai Roro Kidul. Menurut mereka, Nyai Roro Kidul menyukai warna hijau, oleh karena itu wisatawan yang berkunjung ke Parangtritis disarankan tidak memakai baju berwarna hijau. Selain sarat dengan kisah misteri Nyai Roro Kidul, Pantai Parangtritis juga dikisahkan sebagai tempat bertemunya Panembahan Senopati dengan Sunan Kalijaga sesaat setelah Panembahan Senopati selesai menjalani pertapaan. Selain terkenal sebagai tempat rekreasi, Parangtritis juga merupakan tempat keramat. Banyak pengunjung yang datang untuk bermeditasi. Pantai ini merupakan salah satu tempat untuk melakukan upacara Labuhan dari Keraton Jogjakarta.

telusuri

Sejarah Singapura, Dari Kampung Nelayan Menjadi Kota Kosmopolitan


BANYAK orang terpesona dengan keindahan Singapura dan kemajuannya. Yang paling mengesankan untuk dicatat adalah bahwa negeri ini dahulu hanya merupakan kampung nelayan sederhana, dihuni oleh para penduduk asli. 

telusuri

Review Buku: Permainan Tradisional Jawa

Judul Buku : Permainan Tradisional Jawa
Penulis   : Sukirman Dharmamulya, dkk.
Penyunting  : Sumintarsih

Ancak-ancak Alis
Si Alis kebo janggitan
Anak-anak kebo dhungkul
Si dhungkul bang-bang teyo
Tiga rendheng
Enceng-enceng gogo beluk
Unine pating cerepluk
Ula sawa ula dumung
Gedhene salumbang bandhung
Sawahira lagi apa?

Atab Lontiok. Rumah Ada Melayu Kampar Riau. foto: Derichard  H. Putra/01
MUNGKIN lirik nyanyian di atas tidak asing lagi bagi kita, apalagi jika permainan tersebut dulunya sering dimainkan untuk mengisi waktu luang. Permainan  yang biasanya dimainkan di ruang terbuka ini, dimulai ketika dua orang anak—yang digelari petani—berdiri berhadap-hadapan. Kemudian, keempat tangan pemain diangkat ke atas dan saling menempel sehingga seolah-olah membentuk sebuah gapura. Kedua anak tersebut kemudian menggerakkan tangannya dan saling bertepuk satu dengan lainnya sambil menyanyikan lirik lagu di atas.

telusuri

Back to Top