Review Artikel: Permainan Tradisional Anak: Perspektif Antropologi Budaya


Judul Artikel: Permainan Tradisional Anak: Perspektif Antropologi Budaya 
Penulis: Heddy Shri Ahimsa-Putra

Masjid Raya Pekanbaru. Bangunan Masjid Raya Pekanbaru
Sebelum di  Pugar. foto:  Derichard H. Putra/01
MENGENANG permainan rakyat yang biasa dimainkan saat masih kecil atau ketika masih di kampung dulu mungkin merupakan kenangan yang mengesankan sekaligus lucu. Walaupun, beberapa permainan yang pernah dimainkan tersebut sudah sangat jarang—kalau tidak mau dikatakan tidak ada—yang bisa ditemukan dan dimainkan oleh anak-anak saat ini. Kemajaun teknologi dan informasi, yang menciptakan mainan-mainan modern—plastik, elektronik, dan games online—telah mengubur masa-masa indah itu. 

Membanjirnya produk-produk ‘asing’ tersebut menyebabkan berbagai macam reaksi dari masyarakat. Menurut Ahimsa-Putra dalam artikel ini, secara umum setidaknya ada tiga reaksi masyarakat dalam memandang dan menilai fenomena permainan anak.

Reaksi yang pertama adalah masyarakat yang menilai positif dengan berbagai macam jenis permainan tersebut. Reaksi ini mucul dari mereka yang beranggapan bahwa berbagai macam jenis permainan baru pada anak-anak memberikan dampak positif terhadap kehidupan anak-anak. Reaksi lainnya adalah masyararakat yang menilai negatif. Walaupun menurut penulis yang betul-betul menilai negatif bisa dikatakan tidak ada dan lebih tepat dikatakan kekhawatiran, reaksi seperti ini lebih disebabkan oleh alasan ekonomis. Reaksi ketiga adalah yang bersifat netral. Pada umumnya masyarakat Indonesia bersifat seperti ini. Reaksi ini disebabkan karena adanya pandangan bahwa pada dasarnya setiap orang sudah mampu menentukan pilihan yang paling baik bagi diri dan keluarganya.

Dalam era globalisasi ini muncul pula pertanyaan, relevankan apabila permainan rakyat digali kembali dalam kaitannya dengan semakin dominannya permainan baru dalam kehidupan anak? Sementara itu parmainan modern yang telah meransek jauh dalam kehidupan bermain anak-anak, selain berakibat menjauhkan anak-anak dari hubungan perkawanan yang personal ke impersonal. Juga menyebabkan menipisnya orientasi wawasan anak komunalistik ke induvidualistik. Sementara itu disadari pula sebagian ilmuan sosial dan humaniora tentang adanya peran yang tidak kecil dari permainan rakyat dihadirkan dan perkenalan kembali lewat penelitian-penilitian, dan kajian-kajian ilmiah.

Berbagai permainan anak sebagai gejala sosial-budaya telah lama menjadi perhatian ilmuwan sosial. Menurut Ahimsa-Putra dalam tulisan ini, dari beberapa literatur asing yang diamati, setidaknya ada empat perpektif yang pernah digunakan untuk memahami dan menjelaskan fenomena permainan anak. Keempat perspektif seperti: 1) perspektif fungsional: bermain sebagai “persiapan menjadi orang dewasa”, 2) permainan: bermain (play) sebagai ‘permainan’ (game), 3) psikologi: ‘bermain’ sebagai wujud kecemasan dan kemarahan, dan 4) adaptasi: ‘bermain’ sebagai peningkatan kemampuan beradaptasi.

Perspektif fungsional: Bermain Sebagai “Persiapan Menjadi Orang Dewasa”. Perspekti ini, anak-anak diasumsikan melakukan permainan-permainan yang menyerupai apa yang dilakukan orang dewasa, dengan kata lain bisa disebut dengan “persiapan menjadi orang dewasa”. Pandangan fungsional ini dikemukakan oleh Bronislaw Malinowski, ahli antropologi pelopor teori fungsionalisme. Berbagai permainan anak, misalnya: “pasaran”, ”dokter-dokteran”,”sekolah-sekolah” dan sebagainya, yang biasa disebut “role play” (main peran), merupakan contoh dari permainan anak-anak yang mempunyai fungsi mempersiapkan anak-anak untuk memainkan peran yang sebenarnya ketika mereka dewasa nanti.

Jika dilihat dari sudut pandang ini, kegiatan bermain merupakan kegiatan yang bersifat fungsional untuk proses enkulturasi dan sosialisasi anak-anak. Enkulturasi dimaksudkan sebagai proses penanaman nilai-nilai, atau proses menjadikan nilai-nilai yang dianut suatu masyarakat diterima, dipahami, diyakini kebenarannya dan kemudian dijadikan pembimbing perilaku atau bertindak oleh warga suatu masyarakat, sedang sosialisasi adalah proses mengenalkan dan membiasakan anak pada berbagai induvidu lain, berbagai kedudukan sosial dan peran, berbagai kategori sosial, kelompok dan golongan, serta nilai, norma, dan aturan yang berlaku dalam berinteraksi dengan induvidu dan kelompok tersebut.

Perspektif Permainan: Bermain (play) Sebagai ‘Permainan’ (game). Perspektif ini banyak dipergunakan oleh ahli folkor di akhir abad 19. Hasil yang dicapai lebih banyak bersifat deksripsif, yaitu mengambarkan jenis-jenis permainan yang ada dengan berbagai macam peralatannya, sedang proses-proses sosial dari permainan itu sendiri tidak dimuculkan. Mereka umumnya beranggapan bahwa ‘game’ (permainan) adalah wujud yang paling jelas dari ‘play’. Jadi perhatian para ahli lebih diarahkan pada kegiatan bermain yang terstuktur, seperti yang biasa dilihat dalam ‘permainan’. 

Dari sudut pandang semacam ini para ahli kemudian melakukan berbagai studi perbandingan untuk mengetahui hubungannya dengan keadaan masyarakat dan kebudayaan di masa lampau. Dengan asumsi-asumsi yang sedikit-banyak etnosentris, atau Eropasentris, para ahli sering kali memandang permainan ini sebagai sisa-sisa dari kegiatan orang dewasa pada masyarakat-masyarakat primitif di masa lampau. 

Perspektif Psikologis: ‘bermain’ Sebagai Wujud Kecemasan dan Kemarahan. Perspektif ini memandang kegiatan bermain anak-anak sebagai fenomena seperti tes proyektif (projective test), yang dapat memperlihatkan kecerdasan-kecerdasan mereka serta sifat-sifat galak mereka yang diduga bersumber pola-pola pengasuh anak dalam suatu kebudayaan. 

Perspektif ini digunakan oleh Robert dan Sutton-Smith (1963). Dua ahli ini mengembangkan hipotesis yang menjelaskan hubungan-hubungan antara jenis permainan, dengan variable pola asuh anak dan variable budaya lainnya. Keterlibatan induvidu dalam permainan ini pada akhirnya akan membuat dia mampu mewujudkan perilaku-perilaku yang mempunyai nilai fungsional dan berguna dalam kebudayaannya (Schwartzman, 1976: 296). Ahli lain yang melakukan penelitian dalam jalur ini adalah R.R Eifermann, yang mencoba mengetahui perbedaan antara sifat-sifat anak di desa dengan anak-anak di kota dengan memperhatikan permainan permainan yang merkea mainkan.

Perspektif Adaptasi: ’Bermain’ Sebagai peningkatan Kemampuan Beradaptasi. Dalam perspektif ini, beranggapan bahwa ‘bermain’ tidak hanya terbatas pada makhluk manusia, tetapi juga berbagai jenis binatang lainnya. Asumsi dibalik pendekatan semacam ini adalah bahwa aktivitas makhluk pada dasarnya mempunyai fungsi tertentu, dan karena salah satu masalah penting yang menyangkut keberlangsungan hidup suatu spesies adalah masalah adaptasi, maka tentunya ‘bermain’ juga mempunyai fungsi dalam kerangka adaptasi makhluk tersebut. Perspektif ini sebenarnya agak dekat dengan prespektif fungsional, akan tetapi berbeda karena dalam prespektif adaptasi ini fungsi bermain tidak hanya bersifat sosial dan cultural, akan tetapi juga ragawi (physical).

Ada dua teori terpenting berkenaan dengan adaptasi makhluk lewat ‘bermain’ ini, yaitu teori ‘arousal’ dan teori ‘educational’. Walaupun tampak saling berlawanan, akan tetapi pada dasarnya kedua teori saling melengkapi. Teori arousal menjelaskan fenomena bermain dalam kerangka jangka pendek, sedangkan teori ‘pendidikan’ (educational) diberikan untuk memberikan pemahaman yang bersifat jangka panjang. Dalam teori arousal dikatakan bahwa setiap organisme pada dasarnya berusaha mempertahankan “an optimal level of arousal”, dan ini berarti bahwa setiap makhluk pada dasarnya selalu menginginkan perubahan-perubahan***

Leave reply

Silakan tinggalkan komentar dan saran Anda di ruang kosong di bawah ini.

Back to Top